Minggu, 08 November 2009

manfaat organisasi

Manfaat Organisasi


Manusia tidak bisa hidup sendiri di dunia ini. Dia harus berinteraksi dengan orang lain. Mengapa demikian? Karena manusia itu makhluk sosial. Dia secara individual merupakan bagian dari orang lain. Maka, mau tidak mau kita sebagai manusia harus srawung dengan orang lain.

Salah satu cara berhubungan dengan orang lain adalah melalui organisasi. Melalui organisasi, kita mampu mengolah diri dengan benar, baik secara naluriah maupun fitrah.

Bukti telah banyak di depan mata. Orang-orang yang sukses sebagai pemimpin, pengusaha, atau status sosial yang mapan lainnya, pasti dulunya mereka pernah mengenyam pahit manisnya berorganisasi. Mereka banyak makan asam garam dalam organisasi itu. Sebut saja Gus Dur salah satunya.


Mengapa organisasi demikian penting bagi kita, terutama di zaman yang mendunia (global) saat ini? Itu tidak lain karena dalam berorganisasi kita akan terasah dan terlatih untuk hidup berjamaah dengan orang lain, baik suka maupun duka. Di suatu organisasi itulah tercampur secara alamiah berbagai perilaku dan sifat masing-masing anggota. Ada yang egois, namun ada pula yang sosial. Ada yang pendiam, tapi ada pula yang cerewetnya minta ampun.

Nah, dalam kebersamaan di organisasi itulah, akan terbentuk secara alami manusia yang sempurna dalam arti psikologis. Yakni, manusia yang mampu kapan saatnya menempatkan posisi dirinya sebagai individu dan kapan pula dia harus lebih mementingkan kepentingan organisasi demi kepentingan bersama pula.

Untuk mencapai nikmatnya manfaat berorganisasi itu memang butuh proses yang panjang dan lama. Tidak bisa kita hanya berorganisasi dalam beberapa bulan lalu menuntut kematangan pribadi seperti yang diuraikan tersebut.

Oleh karena itu, kita harus mengetahui bagaimana cara-cara berorganisasi yang baik. Berikut beberapa cirinya. Pertama, organisasi harus memiliki anggota yang jelas identitas dan kuantitasnya. Untuk saat ini, setiap organisasi yang modern pasti menuntut para anggotanya memiliki KTA (kartu tanda anggota). Maka, tidak dibenarkan istilah ”Romli” atau “rombongan liar” yang merupakan kumpulan dari ”Talap” alias “anggota gelap” dari sebuah ”OTB” singkatan dari “organisasi tanpa bentuk”.

Kedua, organisasi harus memiliki pula identitas yang jelas tentang keberadaannya dalam masyarakat. Artinya, jelas di mana alamat kantornya. Tampak pula aktivitas sehari-hari kantor tersebut dalam menjalankan roda organisasi. Ada pula nama, lambang, dan tujuan organisasi yang termuat dalam AD (anggaran dasar) dan ART (anggaran rumah tangga).

Demikian pula struktur organisasinya. Masih banyak lagi yang bisa membuktikan keberadaan organisasi itu di mata masyarakat. Jika identitas tak jelas, maka jangan salahkan masyarakat bila menaruh curiga terhadap organisasi itu.

Ketiga, organisasi harus memiliki pemimpin serta susunan manajemen yang juga jelas pembagian tugasnya. Masing-masing bagian, divisi, maupun seksi juga aktif memainkan perannya. Jadi, sangat ganjil dan dipastikan ”sakit parah” jika organisasi itu yang tampak paling aktif adalah ketuanya sehingga tampak seperti pertunjukan sirkus one man show dalam manajemen organisasi itu.

Keempat, dalam setiap aktivitas organisasi harus mengacu pada manajemen yang sehat. Misalnya, ada tiga tahapan dalam menjalankan roda organisasi, yaitu planning (peren-canaan), action (pelaksanaan), dan evaluation (penilaian). Ketiga tahapan itu selalu dimusyawarahkan dan melibatkan sebanyak mungkin anggotanya, terutama saat melewati tahap action.

Dalam manajemen itu, yang juga harus mendapat perhatian serius adalah administrasi. Surat bernomor, kop surat, dan ciri-ciri administrasi lainnya yang lazim ada di sebuah organisasi.

Kelima, organisasi harus mendapat tempat di hati masyarakat sekitarnya. Artinya, organisasi itu dirasakan benar manfaatnya bagi masyarakat. Maka, kegiatan organisasi dituntut untuk mengakar kepada kebutuhan anggota khususnya, bahkan untuk masyarakat di sekelilingnya.

Jika kelima syarat organisasi sehat itu sudah ada, maka janganlah ragu untuk berkiprah di organisasi itu. Ikutlah secara aktif di dalam organisasi itu apa pun peran atau tugas yang diberikan ketua atau atasan langsung Anda. Ingatlah, sekecil apa pun peranan Anda di suatu organisasi dan Anda berhasil menjalankan amanat itu, berarti Anda memiliki andil dalam menghidupkan organisasi tersebut. Anda harus bangga bahwa ternyata Anda masih bermanfaat bagi organisasi. Itu juga berarti Anda bermanfaat bagi orang lain yang ada di organisasi. Kalau Anda sukses menjalankan tugas yang kecil tadi, pasti pemimpin Anda akan memberikan amanat yang makin besar dari waktu ke waktu. Bahkan, bukan suatu hal yang mustahil jika nanti Anda sendirilah yang memimpin organisasi itu. Modal pengalaman memimpin organisasi tadi pasti akan bermanfaat bagi Anda dalam terjun di organisasi kemasyarakatan yang lebih besar. Percayalah!

PENTINGNYA KELEMBAGAAN MASYARAKAT YANG BERKELANJUTAN







1. Tata Kelola Organisasi yang baik. Tata kelola organisasi yang baik ini dicirikan oleh beberapa sub indikator: (i) adanya pemimpin kelompok yang berdedikasi dan kompeten. Kualifikasi pemimpin meliputi kombinasi antara keahlian dan personal network yang relevan dengan visi, misi dan tujuan organisasi; (ii) Organisasi juga melakukan pengembangan/peningkatan kapasitas pemimpin dan anggota. Organisasi (kelompok) sebaiknya mengalokasikan sejumlah dananya setiap tahun untuk pengembangan dan/atau penguatan organisasi, pemimpin dan anggota organisasi. Visi, misi dan tujuan organisai dinyatakan secara tertulis. Organisasi juga mampu merencanakan kebutuhan (yang telah diidentifikasi sebelumnya) dan penerima manfaat yang akan dibina secara jelas; (iii) Organisasi sepatutnya diregistrasi oleh insansi terkait; (iv) Ciri lain penguasaan organisasi yang baik adalah akuntabilitas mekanisme dan sistem cukup jelas dan berfungsi sehingga peranan dan tanggung jawab pemimpin dan anggota organisasi cukup jelas, tertulis dan dipatuhi. (v) Kriteria mengenai keanggotaan cukup jelas, termasuk kontribusi anggota (waktu, usaha dan keuangan) dan partisipasi kaum wanita; (vi) Pengurus dan anggota mengadakan pertemuan secara periodik untuk mendiskusikan kebijakan dan arahan organisasi dan program. Semua pertemuan dicatat dengan baik; (vii) Memiliki kapasitas untuk memecahkan konflik internal, hal ini diitunjukkan adanya kebijakan dan prosedur yang cukup jelas, tertulis mengenai pemecahan konflik internal termasuk konflik antar anggota.

2. Manajemen organisasi yang baik. Beberapa sub indikator yang mengindikasikan manajemen organisasi yang baik yaitu (i) struktur organisasi yang efektif dan effisien telah dibuat dan berfungsi. Bagan organisasi secara jelas mengindikasikan garis kewenangan, alur kegiatan dan akuntabilitas; (ii) Perencanaan program / organisasi yang tertulis. Perencanaan harus berdasarkan pada komitmen, visi, misi dan tujuan organisasi; (iii) perencanaan mencakup daftar kegiatan/proyek yang diusulkan untuk dua tahun kedepan dengan target pendanaan; (iv) Selain itu ada perencanaan yang cukup jelas mengenai perekrutan pengurus yang diperlukan dan/atau relawan untuk program/proyek yang diusulkan; (v) Adanya proses atau kebijakan yang jelas mengenai seleksi penerima manfaat, partisipasi dan distribusi manfaat; (vi) Sistem monitoring dan evaluasi telah dibuat dan dioperasikan. Pengembangan, persetujuan, pengukuran dan penilaian indikator keberhasilan dengan melibatkan partisipasi penerima manfaat termasuk kaum wanita; (vii) Sistem pelaporan dikerjakan sesuai dengan jadwal dan muatan yang telah disetujui; (viii) Adanya dokumentasi dan pelaporan transaksi keuangan. (ix) Kapasitas untuk mengembangkan dan mengelola proyek. Staf administrasi dan tehnis dan/atau relawan memiliki keahlian khusus dalam melaksanakan proyek/tugasnya. 3. Manajemen keuangan yang baik. Beberapa sub indikator manajemen keuangan yang baik antara lain: (i) organisasi memiliki kebijakan dan prosedur tertulis yang mengikuti prinsip akuntansi dan audit internal yang telah diterima oleh umum; (ii) organisasi memiliki anggaran tahunan; (iii) organisasi memiliki dana internal yang cukup untuk melaksanakan kegiatan; (iv) Organisasi memiliki beragam sumber dana dan kapasitas untuk meningkatkan dana/pendapatan selain dari hibah/bantuan proyek; (v) dokumen pendukung dan transaksi keuangan dikelola dengan baik untuk tujuan mempermudah kegiatan audit; (vi) Audit tahunan dilaksanakan oleh independent auditor; (vii) Adanya mekasnisme untuk mengetahui alokasi dana, penggunaan dana dan kegiatan mendapatkan dana; (viii) Komitmen kemandirian organisasi: organisasi mengembangkan dan melaksanakan perencanaan keberlanjutan keuangan jangka pendek dan jangka menengah.
4. Sistem pelayanan terhadap anggota yang baik. Sistem pelayanan yang baik diindikasikan beberapa sub indicator sebagai berikut: (i) kemampuan tehnis dan partisipasi anggota dalam kegiatan organisasi; (ii) Kemampuan dalam menilai (assessment) pelayanan organisasi dan dampaknya bagi anggota organisasi; (iii) Secara periodik, organisasi melakukan penilaian mengenai pelayanan yang mereka berikan dan dampaknya bagi anggota.

5. Hubungan luar organisasi yang baik. Indikator ini dicirikan dengan beberapa sub indikator antara lain: (i) Networking dan jejaring yang efektif. Organisasi adalah anggota network LSM dan/ atau network lainnya; (ii) organisasi mengembangkan hubungan/kerjasama dengan sektor lain seperti pemerintah, swasta dan lainnya; (iii) Organisasi mampu meningkatkan partisipasi politik dan advokasi yang dapat memberikan dampak bagi organisasi; (iv) Kemampuan untuk menegosiasi dan mengakses sumber daya baik berupa sumber daya manusia, alam, tekonologi, informasi dan keuangan; (v) memiliki kontrol pada pendanaan, keputusan dan proses.

6. Pemeliharaan budaya organisasi yang baik. Apabila organisasi mampu memelihara budaya organisasi yang baik diharapkan kekompakan, rasa memiliki, kebanggaan organisasi tumbuh dengan baik sehingga organisasi menjadi lebih solid dan sehat. Keadaan ini bisa diindikasikan oleh sejumlah sub indikator antara lain: (i) taat/disiplin dalam perayaan hari jadi organisasi; (ii) selalu melakukan review visi, misi dan tujuan organisasi sesuai nilai dan budaya organisasi; (iii) saling membantu antar anggota secara sukarela; (iv) organisasi mempunyai reputasi/image yang positif; (v) memiliki kebiasaan memberi penghargaan kepada anggota yang berjasa. Oleh karena iti, penting bagi para penggiat pemberdayaan masyarakat untuk memiliki orientasi agar kelompok dampingannya memiliki organisasi yang memiliki ciri-ciri di atas. Jika kelompok sasaran mampu mewujudkan ciri-ciri organisasi masyarakat (bisa berupa kelompok mandiri, federasi, gapoktan, koperasi atau bentuk lainnya) berarti kita telah mengantarkan pada proses kemandirian mereka. Kelompok telah memiliki ciri-ciri kelembagaan seperti di atas, ketika diperkenalkan dengan berbagai keahlian vocational yang baru (melalui technical building) dan/atau tambahan modal, insya allah akan mampu mengelolanya. Akan tetapi jika kita dari awal sudah terburu-buru memberikan technical building tanpa penguatan kapasitas kelembagaan di atas (melalui capacity building), maka sudah dapat diprediksi mereka akan jadi kelompok pasar malam dan akan berakhir dengan berakhirnya program.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar